Jumat, 01 Februari 2013

Dua Hal Berlawanan

Malam biasa di bulan Januari. Saat itu aku sedang chatting dengan seorang sahabatku. Bisa dibilang kami, atau setidaknya aku, menikmati perbincangan ringan kami. Minggu-minggu ini aku sedang merasa benar-benar tertekan bukan oleh siapa-siapa namun diriku sendiri. Sehingga percakapan ringan seperti ini bisa benar-benar menghiburku.


Namun tiba-tiba aku mendapat message dari salah satu temanku. Isi pesan tersebut singkat, namun jelas menunjukkan sikap jengkel. Aku bertanya ada apa. Ternyata masalah tadi siang.

Emosiku sedang tidak stabil saat dia menanyakan ada apa denganku. Aku menjawab singkat. Aku sempat merasa senang karena setidaknya ada temanku yang peduli. Tiba dia usil mengirim pesan yang kesannya mengejek. Aku tahu dia cuma bercanda, namun entah mengapa aku justru mengatakan hal yang buruk kepadanya. Dia tidak membalas pesanku sampai malam tiba.

Aku langsung menyadari apa yang telah kuperbuat dan merasa sangat bodoh. Dia bertanya apa ada yang salah dengan dirinya. Aku jawab tidak dan aku langsung meminta maaf kepadanya. Dia bilang dia merasa tersakiti oleh kata-kataku, yang hanya menambah rasa bersalah dalam hatiku ini. Namun pada akhirnya dia memaafkanku.

Kembali kepada sahabatku. Semuanya sama sekali berbeda. Tidak ada perasaan jengkel, ekpresi masam, ataupun kata-kata yang tidak mengenakan hati. Semuanya cerah, ceria, dan penuh tawa. Dan dari sikap yang dia tunjukkan, sepertinya dia merasa senang. Berbeda, sama sekali berbeda.

Aku merenung sejenak. Dalam sehari, aku telah membuat seseorang sedih, dan membuat seseorang lainnya senang.




*catatan: keesokan harinya, aku dan temanku -yang sudah kurusak harinya- menonton film berdua di kelas sementara hampir semua orang berada di halaman sekolah menghadiri acara open house yang kebetulan sedang diselenggarakan oleh sekolahku. Sambil menonton, kami mengobrol sedikit dan tertawa-tawa tanpa sedikitpun memikirkan apa yang telah terjadi semalam.

1 komentar: