Sore ini rasanya tidak beda jauh dengan sore-sore di hari Jum'at lainnya. Aku keluar dari kamar, berjalan ke arah kulkas, melihat apa saja yang bisa aku makan saat itu. Lalu pandanganku tertuju pada sekotak coklat, yang merupakan oleh-oleh Ibu dari Singapura. Aku buka kotak coklat tersebut, ada tiga atau empat potongan coklat berbentuk Merlion, aku ambil satu potong lalu aku gigit. Setelah gigitan pertama, aku tutup pintu kulkas lalu aku lanjutkan mengunyah coklat di dalam mulutku.
Pertama-tama, aku tidak merasakan apapun, namun setelah gigitan kedua aku merasa ada yang aneh dengan rasa coklat ini. Rasanya seperti... seperti... oh tidak, basi. Aku lihat potongan coklat di tanganku dan aku teliti lagi dan aku temukan beberapa corak-corak putih yang apapun itu, jelas tidak berasal dari sononya.
Saat itu aku sedang di dalam kamar, sehingga hal pertama yang aku lakukan adalah melepeh coklat yang masih tersisa di dalam mulut dan membuangnya ke tempat sampah. Aku juga buang potongan coklat yang kupegang dan sial, masih ada sisa coklat yang menempel di sela-sela gigiku.
Dengan sedikit berlari, aku bergegas menuju wastafel dan berkumur-kumur dengan air sebanyak mungkin. Sisa-sisa coklat dan rasa basi masih menetap di dalam mulut. Sehingga aku, sambil menyumpah-nyumpah dalam hati, berlari kecil arah kamar mandi dan segera menggosok gigiku.
Yakin sudah tidak ada sisa coklat yang menyelip di antara gigi-gigiku. Aku akhiri kegilaan ini dengan berkumur-kumur dengan setengah tutup botol obat kumur.
Keluar dari kamar mandi, aku berpikir sejenak; aku sudah makan sore sehingga tidak butuh untuk makan lagi nanti malam, jadi setidaknya aku tidak usah mengkhawatirkan bau mulutku malam ini.
Pertama-tama, aku tidak merasakan apapun, namun setelah gigitan kedua aku merasa ada yang aneh dengan rasa coklat ini. Rasanya seperti... seperti... oh tidak, basi. Aku lihat potongan coklat di tanganku dan aku teliti lagi dan aku temukan beberapa corak-corak putih yang apapun itu, jelas tidak berasal dari sononya.
Saat itu aku sedang di dalam kamar, sehingga hal pertama yang aku lakukan adalah melepeh coklat yang masih tersisa di dalam mulut dan membuangnya ke tempat sampah. Aku juga buang potongan coklat yang kupegang dan sial, masih ada sisa coklat yang menempel di sela-sela gigiku.
Dengan sedikit berlari, aku bergegas menuju wastafel dan berkumur-kumur dengan air sebanyak mungkin. Sisa-sisa coklat dan rasa basi masih menetap di dalam mulut. Sehingga aku, sambil menyumpah-nyumpah dalam hati, berlari kecil arah kamar mandi dan segera menggosok gigiku.
Yakin sudah tidak ada sisa coklat yang menyelip di antara gigi-gigiku. Aku akhiri kegilaan ini dengan berkumur-kumur dengan setengah tutup botol obat kumur.
Keluar dari kamar mandi, aku berpikir sejenak; aku sudah makan sore sehingga tidak butuh untuk makan lagi nanti malam, jadi setidaknya aku tidak usah mengkhawatirkan bau mulutku malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar