Minggu lalu, tepatnya hari Sabtu. Dengan perasaan terburu-buru dan sedikit excited aku menggenjot sepeda menuju rumah temanku. Kenapa terburu-buru? Dengan excited pula? Biasa, aku baru saja meng-install game baru di laptop titipan temanku ini. Yang artinya aku akan menghabiskan siang ini dengan bermain bersama temanku ini. Setelah shalat dzuhur tentunya.
Aku juga tadi menyempatkan diri membeli dua bungkus roti canai, salah satu makanan favorit kami, untuk makan siang. Dengan laptop di ransel dan bungkusan berisi canai aku digantung di salah satu stang sepeda, aku dengan cepat menggenjot sepeda.
Saat akan menyeberang jalan, aku merasa ada yang memanggilku. Aku agak bingung antara menengok ke arah suara atau terus saja karena tidak lepasnya kemungkinan aku hanya salah dengar. Namun empunya suara itu memanggilku lagi, yang membuatku akhirnya tahu bahwa memang seseorang memanggilku. Tapi untuk apa?
Orang yang memanggilku, seorang bapak-bapak yang kelihatannya berusia 30-an dan berperawakan kurus serta kulit kehitaman yang pasti karena terbakar sinar matahari, memintaku untuk mengikutinya menepi dari jalan. Bapak-bapak ini mengenakan kemeja biru lusuh dan celana berwarna gelap beralas kaki sandal jepit serta membawa kantong kresek hitam yang entah apa isinya.
Ia, dengan suara parau dengan kesan memelas, mengatakan bahwa ia bukan orang asli di sini. Entah bagaimana caranya, ia "terdampar" di Purwokerto dan sangat ingin sekali pulang menemui anak dan istrinya di Cirebon. Ia meneruskan ceritanya, bahwa ia ingin memesan tiket kereta untuk pulang namun celaka tidak sepeserpun uang ia punya. Ia juga bercerita bahwa ia telah mencoba untuk meminya bantuan dari orang-orang sekitar namun karena suaranya yang sangat parau dan tidak jelas, aku tidak tahu apa yang ia bicarakn namun yang jelas tak ada yang bisa, atau mau, membantunya. Dan akhirnya ia bertanya keberatankah bila aku menghubungi keluargaku untuk membantu bapak-bapak malang ini.
Aku berpikir sejenak, bisa saja ini salah satu modus penipuan, namun setelah mengingat kembali kata-kata bapak-bapak itu dan melihat apa yang ia bawa, yang tidak terlalu banyak. Aku memutuskan untuk mempercayainya. Akhirnya, aku tanya berapa uang yang ia butuhkan. Ia bilang sekian, hanya untuk tiket kereta, tidak makan tidak apa-apa. Aku bilang bahwa aku tidak bisa menghubungi keluargaku (yang memang benar, karena baterai handphone-ku habis). Sehingga aku hanya bisa memberi uang seadanya. Bapak-bapak itu menjawab tidak apa-apa. Aku mengeluarkan semua uang yang ada di dompetku
(yang jumlahnya tidak terlalu banyak, karena baru dipakai untuk membeli canai) dan dua bungkus canai yang barusan kubeli. Ia berterima kasih padaku, setelah berkali-kali mencoba menolak dua bungkus canai yang aku berikan. Setelah ia mendoakanku berbagai macam hal dan bahwa semoga suatu saat bisa mengembalikan pemberianku dan mengucapkan salam, kami berpisah. Setelah agak jauh, aku menengok kembali kepada bapak-bapak itu, ia melihatku dari kejauhan, melambaikan tangan, lalu tersenyum.
Dan hari ini, aku berpikir, ke mana takdir telah membawanya? Bagaimana kelanjutan ceritanta? Apakah ia akhirnya bisa pulang ke Cirebon, untuk bertemu anak dan istrinya, atau Allah punya rencana lain dan memutuskan bahwa ini bukan waktunya bagi dia untuk pulang? Seandainya aku tahu.
Kadang, aku terlalu memikirkan diri sendiri, sehingga lupa bahwa hidup bukan hanya tentang diriku saja. Bahwa cerita ini tidak hanya menceritakan perjalanan hidupku. Kehidupan ini juga kehidupan orang lain, kehidupan kita semua. Cerita ini, akhirnya, tentang kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar