Sudah lama aku memikirkan hal ini, namun baru sekarang terpikir olehku untuk menulisnya. Tidak masalah.
Jum'at siang. Aku sedang berjalan menuruni tangga dari lantai dua gedung SMP Al-Irsyad, hendak ke lantai satu. Ketika aku melihat sebuah poster yang kalau tidak salah bertuliskan:
"Jangan menghakimi orang lain,
Namun hakimilah diri sendiri secara kritis
Di poster itu terdapat gambar perempuan berjilbab hijau yang merentangkan tangan kanannya ke arah kalimat di poster yang memberi kesan menggurui. Sangat meyakinkan.
Aku coba memikirkan kalimat dan menarik kesimpulan dari kalimat yang barusan kubaca. Dan entah bagaimana pikiran ini terbesit: kalau begitu, bukannya sama saja Badan Kesiswaan menghakimi orang lain?
Jujur, kalimat poster itu selalu membuatku terprovokasi sejak pertama kali membacanya. Maksudku, siapa mereka? Dengan mudahnya menuduh kami orang yang suka menghakimi orang lain?
Oke oke. Pertama, Badan Kesiswaan menuliskan kalimat "Jangan menghakimi orang lain". Menurutku kalimat ini menunjukkan kesan bahwa Badan Kesiswaan menghakimi kami, siswa-siswi SMP Al-Irsyad, sebagai manusia yang senang menghakimi orang lain. Sehingga Badan Kesiswaan menuliskan kalimat tersebut. Lalu yang kedua, "Hakimilah diri sendiri secara kritis". Yah, pikirku, dari pada Badan Kesiswaan menghakimi kami, kenapa tidak menghakimi diri sendiri saja? Toh itu yang mereka ajarkan.
Namun lamunanku tidak berhenti sampai di situ. Masih ada hal yang aku pikirkan. Yang agak bertentangan dengan lamunanku sebelumnya. Dengan memikirkan bahwa Badan Kesiswaan suka menghakimi kami sebagai orang yang suka menghakimi orang lain, bukannya sama saja AKU yang menghakimi orang lain? Karena aku tanpa dasar yang jelas telah menghakimi bahwa Badan kesiswaan senang menghakimi orang lain? Dan bahwa aku bukannya menghakimi diri sediri, justru malah menuntut dalam hati agar Badan Kesiswaan menghakimi diri mereka sendiri?
Aku menabrak tembok yang aku bangun sendiri.
Aku berpikir kembali. Kenapa aku harus menganggap ini terlalu serius? Dan buat apa aku repot-repot memikirkan kalimat di sebauh poster? Kurang kerjaan.
Tidak. Bukan itu solusinya. Aku tidak hanya bisa melupakan suatu masalah dan berpura-pura bahwa masalah itu tidak pernah ada. Aku tidak bisa menyelimuti diri sendiri dan menutup mata, tanpa memedulikan kenyataan di dunia ini yang selalu berjalan seiring waktu. Aku harus mencari jawaban. Kedengarannya konyol. Karena MEMANG ini konyol. Sekali lagi, aku sedang pusing mencari jawaban dari sebuah kalimat di poster.
Perjalanan Pikiranku dalam mencari jawaban atas kalimat ini serasa tak berujung. Setiap kali aku merasa menemukan jawaban, selalu saja ada yang menghalangi. Setiap hari aku merenungi kelimat tersebut. Jika kita mengucapkan kalimat ini pada orang lain, bukannya sama saja kita secara tidak langsung menghakimi orang lain?
Ugh. Sepertinya kalimat ini hanya akan memantul-mantul, menyerang kembali semua orang yang mengucapkannya (bukan mengamalkannya). Kali ini aku tinggalkan masalah ini tanpa usah mencari jawaban atau pun menarik kesimpulan. Aku tidak yakin apakah karena pertanyaan memang tanpa jawaban, atau aku terlalu malas untuk berpikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar